Spiga

بسم الله الرحمن الرحيم "ولا تحسبن الذين قتلو في سبيل الله أموات بل أحياء عند ربهم يرزقون فرحين بما آتاهم الله من فضله ويسثبشرون بالذين لم يلحقوا بهم من خلفهم ألا خوف عليهم ولاهم يحزنون".النصر والتمكين للمؤمنين آمين

Referensi

Tampilkan postingan dengan label Curhat/ Unburden. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat/ Unburden. Tampilkan semua postingan

Wajah Itu

Ingin segera kembali kekampung.
Banyak terasa yang memanggil-manggil pulang.
Samar namun nyata. Sayup namun begitu kentara.
Terkilas gambaran beberapa wajah. Seraya berpesan “bawalah sesuatu”.
Aku tahu, mereka tidak menginginkan debu.
Tidak juga air yang membanjiri kota Jakarta.
Seperti kemarin, mungkin juga esok.

dikutip dari: hasdi putra

Jatuh Hati Aku

Segala sesuatu akan menjadi lebih berwarna ketika cinta hadir dalam kehidupan manusia.Ada rasa rindu yang teramat sangat sampai tak terbendungkan lagi. Dari mana datangnya rasa rindu itu, kenapa bisa sebegitu dahsyatnya hadir menyentuh hati. Siapa yang berada di balik itu semua? kadang jika rasa rindu yang teramat sangat itu hadir, hati ini akan sangat teriris sampai sampai air matapun tumpah seketika membasahi pipi.

Ada apa gerangan dengan cinta yang sedang dirasakan. Sebegitu liarkah hati ini sehingga tidak bisa mengendalikan rasa yang sangat merindu untuk tetap dekap denganmu dikehidupan sehari-hari. Kapan lagi rasa ini akan bisa terpuaskan sejenak saja. sebuah jurang pemisah bisa disatukan dengan sebuah jembatan yang disebut dengan "saling menerima". Sama-sama paham dengan kondisi satu dengan yang satunya lagi menjadikan setiap hati yang terpisahkan bisa dapat bertemu di jembatan penghubungnya.

Jurang tidak lagi sebagai penghalang di antara hati-hati yangsedang merindu ini, jurang menjadi keindahan tersendiri ketika sebuah jembatan bisa mempertemukan hati hati yang sedang dimabuk cinta.

untuk yang sedang di mabuk cinta
"jauhnya jarak tidak akan memudarkan ikatan hati yang terjalin kuat"

Terbaring Sakit
















"berfoto di kamar, ketika terbaring sakit setelah kecelakaan"

Alhamdulillah.....
walau baru habis kecelakaan kemaren, badan luka-luka dan terkilir sana sini, segala sesuatu itu masih ada hikmahnya. untung cuma satu tangan yang terkilir, untuk tidak parah, untung tidak ada yang patah, dan masih banyak untuk yang lain...

terakhir.. untung masih bisa narsis walau dalam masa istirahat seharian di kamar....!!!

tanks to Alloh..!!

Felt

Rasa...

Hambar namanya kalo tidak memiliki rasa, setiap kali hati ini mendapatkan rasa, setiap kali itu pula hati bergetar. Maha besar Alloh yang maha membolak balikkan hati. dengan rasa, Alloh telah melukis kanfas kehidupan setiap anak manusia.....



Secarik Kertas Hari ini

Banyak terlihat kertas kosong tanpa goresan tinta di dalamnya, tidak ada satu tangan pun berani mencoret apapun untuk menorehkan sesuatu padanya.

setiap hari yang kita lewatkan ibaratkan secarik kertas kosong yang sudah terbuang sia sia, butuh sebuah keberanian dan kemauan niat untuk menorehkan sesuatu titik sejarah hidup kita masing. Kenapa hidup ini disia-siakan lagi.??

Perubahan itu sendiri yang tak mau pernah berubah















apa saja yang berbeda...???

lalu akan seperti apakh 20 tahun yang akan datang...???

Analogi itu seperti ini...

Ujian demi ujian menjadi sebuah moment pendewasaan pribadi di ranah dakwah thulabi negara dan bangsa yang kita cintai ini. setitik usaha dari pejuang sejati merupakan setetes embun yang segar yang masuk ke tenggorokan bangsa indonesia yang sedang panas dalam, menahan racun kesengsaraan dan kekurangan air (red: kader-kader islam yang militan dan luas wawasannya) untuk melancarkan pencernaannya dan kemudian menghasilkan energi perubahan yang akan dirasakan manfaatnya oleh dunia… sehingga benar bahawa islam itu adalah rahmat bagi alam semesta….

aia lauik alah talanjua asin, tapi ikan ndak tabaok asin…. dunia menanti mu….

Puisi dari .... untuk aktivis (Poetry from.... to aktivis)

tuk akhwat duluan:
berhati-hatilah mengeluarkan pujian
Apalagi kepada ikhwan hati akan menjadi taruhan
dikejar-kejar baru lu kelabakan :P

buat ikhwan
berhati-hatilah memberikan semangat
apalagi kepada akhwat
jika hatinya tak kuat
hatimu juga bisa dalam kondisi gaswat :)

he..he.. lagi iseng bikin puisi sambil nunggu dosen...!

Peregrination whit not finish stripe (perjalan tanpa garis finish)

Mempunyai berbagai permasalahan yang kompleks dan rumit, bertabur akan onak dan duri, dan bukan perjalan yang singkat untuk ditempuh melainkan perjalanan tanpa adanya garis finis. Itulah dunia da’wah yang selama ini sangat kita kenal.

Dunia da’wah (akrab didengar dengan dunianya aktivis), dalam pencapaian tujuannya acap kali menemukan tanggul-tanggul yang dapat mengurangi laju dari kendaraan da’wah itu sendiri. Ironisnya, dengan sadar kita menganggap tanggul tersebut hanya merupakan sebuah kewajaran dalam dunia da’wah.

Perselisihan, ketegangan, dan berbagai macam perwujudannya telah mencoba menjadikan tali silaturahim yang berperan sebagai motor da’wah ini ikut terusik. Perpecahan antara aktivis tidak dapat dielakkan lagi, bahkan berbuntut pada pencabutan hak loyalitasnya terhadap dunia da’wah nan indah ini.

Miris memang!

“Lingkaran-lingkaran” yang seharusnya menambah mesrah ikatan tali kekeluargaan diantara mereka malah menjadi sumber api perpecahan kader da’wah masa depan, kader da’wah bangsa, kader-kader da’wah dunia, dan kader da’wah yang akan memiliki prestasi nan gemilang di lembah sejarah manusia.

Siapa yang lebih bertanggung jawab akan hal ini?

Apakah sang murobbi yang tak padan dan tidak memenuhi hak mutarobinya?

Atau memang murni karena konflik-konflik internal (perang dingin) antara anggota “lingkaran” itu sendiri tanpa sepengetahuan murobbinya?

Atau sebab adanya seniorisme (siapa yang dapat hidayah lebih awal dialah yang paling berhak di dengar), hal ini bisa menjadi tanggul pengghalang jalannya da’wah ini?

Jika betul semua hal ini mengakibatkan timbulnya riak-riak kecil di samudera da’wah ini. Maka, apa sebuah kewajaran jika hal-hal ini ikut lebur dan larut dalam formula da’wah kita?

Jangan sampai ghiroh dan ruh da’wah para kader dibunuh dengan divonis matinya mereka di tali gantungan (ketidak pedulian masing-masing kita) yang telah lama melilit di leher mereka (para tentara Allah masa depan tersebut).

Dia-lah Allah yang maha membolak-balikan hati kita! Cerita baru akan selesai ketika nyawa tak lagi dikandung badan. Maka buatlah cerita tentang kemenangan dakwah!



01 november 2005,
Salam cinta untuk adinda nesia,razak,dan mega

Tausyiah hari ini untuk kader da'wah

Asslamu'alaikum

semua orang tau betapa pentingnya waktu.
namun tidak semua orang pandai menata waktu yang cuma sedikit itu.
padahal hanya ada dua waktu yang tersedia: dzikrullah atau lalai.
bagi seorang muslim cara yang paling efektif untuk mengoptimalkan waktunya adalah dengan selalu berada dalam keadaan dzikrullah! karena setiap saat adalah modal untuk menggapai ridho Allah swt (QS. 57:16).

jadilah orang yang selalu mengisi pos-pos yang kosong! sehingga ketika kita harus meninggalkan para kader-kader pelanjut estafet dakwah ini pada suatu saat, mereka akan merasa kehilangan diri kita dan merindukan ide-ide dakwah kita! jangan sampai ada atau tidak adanya kita di tengah-tengah mereka sama saja bagi
mereka..

semangat semuanya......!
surga dan bidadari sudah tidak sabar menunggu kedatangan mu...!
allahuakabar..!

Satu Paragraf Untuk Bidadari ku

Hilangkanlah rasa kesepianmu dengan menikah…!

Bidadariku, inilah salah satu misi hidupku sebagai seorang pemuda, sebagai seorang jundullah yang merindukan hadirnya sang bidadari, untuk mendapatkan ridho Alloh swt.

Bidadariku, sejak awal penciptaan manusia di bumi, kehidupan ini ternyata dimulai dari dua insan yang sempat merasakan indahnya surga (adam dan hawa). Adalah sebuah fitrah manusia untuk hidup berpasang-pasangan. Untuk saling menyemangati agar bisa merasakan kembali indahnya surga, sebagai imbalan bagi siapa yang mengharapkan ridho Alloh swt.

Kepada bidadariku yang selalu sabar menunggu. Maafkan aku yang telah membuatmu menunggu lama diri ini untuk segera datang meminangmu. Bukan maksud untuk berlama-lama atau mengulur waktu dan bukan bermaksud untuk tidak menyegerakan sunnah baginda rasul, tapi… sabarlah. Sebentar saja. Bidadariku, sebentar… saja.
Aku sedang mempertegap langkahku agar terlihat gagah berjalan menuju pelaminan berdampingan dengan dirimu....

Rifki ‘birrul waalidain’
Ukhuwah, 21 agustus 2007, 00.00 wib.
Direvisi di wisma KAHFI, 17 november 2008, 21.49 wib

da'i yang kuat

Semut, makluk kecil yang menikmati tubuhnya yang “kecil” tanpa mengingkari kenikmatan yang sudah diberikan oleh sang yang Maha Pemberi. Selalu bergerak kemanapun ia suka tanpa menganggap apaun yang menghalanginya sebagai penghalang baginya. Bahkan apapun benda yang menghalanginya pasti dijadikan tempat untuk melangkahkan kakinya yang kecil tersebut untuk selalu bergerak. Kita halangi dengan tangan kita, dia berjalan di atasnya! Dihalangi dengan buku, dia berjalan di atas buku! Dihalangi dengan padang rumput yang luas, dia jadikan rumah bahkan istana disana, di padang rumput tersebut.

Tabiat dan tujuan dari seekor semut cuma satu. Mencari gula. Semut tak akan berhenti bergerak, berjalan, mondar mandir, merayap, memanjat sampai ia mendapatkan apa yang dicari. Tidak Cuma itu yang bisa kita lihat dari seekor semut. Setelah si semut mendapatkan secuil gula, tanpa rasa rakus ia langsung membawa hasil penemuannya tersebut ke sarangnya, untuk dinikmati bersama-sama semut yang lain, sekali lagi tanpa rakus dan mementingkan keuntungan diri sendiri.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Kuasa atas apapun di alam semesta ini. Semoga kita bisa membaca tanda-tanda/ ayat-ayat yang bertebaran di muka bumi ini. Semut salah satunya. Jika kita bisa mengambil pelajaran dari small teacher (semut) ini, maka kehidupan seorang anak manusia (da’i) tidak ubahnya sekor semut kecil yang tinggal di “padang rumput belakang rumah”. Tujuan, winning goal harus kita miliki. Jika semut tujuan hidupnya adalah secuil gula, maka manusia hanyalah Allah SWT. Kegagalan-kegagalan yang ditemui dalam kehidupan adalah sebuah jalan baru yang mau tidak mau harus dilewati (seperti semut tadi yang selalu menjadikan apapun yang menghalanginya sebagai tempat melangkahkan kaki kecilnya yang mungil) dan dinikmati (seperti semut yang membangun istananya di padang rumput) untuk mencapai tujuan hidup.

Winning team yang dimiliki semut berhasil menjadikan semut menguasai tiap jengkal tanah yang anda di permukaan bumi, bahkan menjadi populasi terbanayak di bumi melebihi manusia. Manusia (da’i) juga harus memiliki al-jama’atu tastahiqqun najah (winning team), biar fitnah terhadap para da’I dan Islam tidak lagi dominan di telinga kita. Selalu bergerak, bergerak, dan bergerak dengan team yang kuat. Sebuah kegagalan hanyalah ibarat buku yang mengahalangi semut tadi. Coba kita bandingkan luas buku dengan luas permukaan bumi! Kecil. Jadi kegagalan hanyalah sebuah hal kecil yang menghalagi kita dari kesuksesan untuk mencapai kesuksesan yang terbentang luas.

Masih banyak lagi yang dapat kita ambil dari seekor semut. Ini menjadi sebuah bukti jika tidak ada sebuah penciptaan yang sia-sia. Semua tergantung bagaimana cara berfikir dalam menyikapai keajaiban sebuah penciptaan.

Pilihan dalam hidup bagi seorang da’i hanya ada satu. Menang atau menang! Salah satu yang menjadi syarat datangnya kemenangan tersebut adalah winning value, nilai-nilai apa yang membuat kita berhak mendapatkan kemenangan tersebut. Dan semoga kita menang sebagai penghuni syurganya Allah SWT yang Maha Agung yang sudah merancang kehidupan ini untuk kita jalani dan hadapai tantangan-tantangan yang disuguhkan kepada hamba-hambanya yang kuat.

Rabu, 8 Agustus 2007@ taman FIBUI, 18.07 WIB
direvisi Jum’at,7 November 2008 @ wisma KAHF, 11.06 WIB

saat kita sendiri

Kahfi baru saja melangkahkan kaki keluar dari lingkungan kampus, menuju ke tempat dimana ia dapat melepaskan semua penatnya (kos-an). Sepanjang jalan menuju tujuannya, terjadi sesuatu yang indah dalam qalbunya. Tubuhnya yang terasa penat serta kepala yang terasa berat tidak mampu menghentikan gerak lintasan dalam qalbunya-qalbu yang selalu terjaga dengan nilai-nilai bernuansa ruhiyah.

"Rabb...inikah yang dirasakan oleh para pendahulu kami...inikah situasi yang telah Engkau janjikan untuk kami" benaknya.

Apa yang Kahfi lakukan hari ini tidak jauh berbeda dengan tiga hari sebelumnya. Menyelesaikan surat-surat ijin untuk tugas akhir akedemiknya. Birokrasi yang ia hadapi serta waktu yang begitu terbatas memaksanya untuk menyediakan keikhlasan dosis tinggi dalam hatinya. Apa yang dihadapinya sebetulnya tidak dirasakan sendiri olehnya, inipun dirasakan oleh saudara-saudaranya yang lain. Hal inilah yang sedikit banyak membuat ia merasa malu untuk bersikap lemah.

Taushiah pun mengalir deras untuk dirinya sendiri.

Rasa malu sempat hinggap dihatinya, ketika teringat dengan nasihat-nasihat yang selalu dipegangnya selama ini. Tidak sepatutnya semua aktivitas yang ia lakukan menjadikan ia melupakan akan makna dibalik ini semua. Apalah artinya prestasi bagus, harta duniawi yang melimpah serta pujian dari manusia, jika itu semua tidak membuat kita semakin pintar dalam mengingat-Nya. Apalagi jika dalam menyelesaikan semua persoalan duniawi tersebut kita hanya mengandalkan rasio kita yang terbatas. Teringatlah ia akan sirah-sirah nabawiyah yang dibacanya, yang membuktikan bahwa hitungan matematis tidak berlaku ketika dihadapkan pada kekuatan keimanan.

Qalbunya pun meminta untuk terus bermuhasabah...

"Allah...di sore ini kuhitung amalku...
yang telah kulakukan hari ini...
Terimalah kebaikanku..
Hapuskan dosaku...
Ya Allah..kabulkanlah doaku..."

Hati terdalamnya diam-diam melantunkan bait-bait Suara Persaudaraan. Suasana "kesendirian" yang ia alami menjadikan ia harus menyediakan kesabaran untuk selalu menyemangati diri sendiri. Lain rasanya ketika saudara-saudaranya masing sering berada di sisinya. Akan selalu tersedia sambutan hangat, rangkulan penyemangat, serta taushiah padat yang akan ia dapatkan (baik ia meminta ataupun tidak). Kini kedewasaannya benar-benar teruji. Seakan-akan situasi ini adalah momen untuk membuktikan apakah ia memahami dengan benar semua materi-materi halaqoh yang ia dapatkan.

Langkahnya-pun semakin cepat seiring dengan langit yang semakin gelap. Teringat ia akan amal yaummi yang belum ia sempurnakan..
" Ya Allah...belum satu juz..!!

(jundihasan)

jika aku jatuh cinta

Cinta. Sebuah kata singkat yang memiliki makna luas. Walaupun belum teridentifikasi secara pasti, namun eksistensi cinta diakui oleh semua orang. Al-Ghazali mengatakan cinta itu ibarat sebatang kayu yang baik. Akarnya tetap di bumi, cabangya di langit dan buahnya lahir batin, lidah dan anggota-anggota badan. Ditujukan oleh pengaruh-pengaruh yang muncul dari cinta itu dalam hati dan anggota badan, seperti ditujukkanya asap dalam api dan ditunjukkanya buah dan pohon.

Cinta sejati hanyalah pada Rabbul Izzati. Cinta yang takkan bertempuk sebelah tangan. Namun Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya. Dia berikan kita cinta kepada anak, istri, suami, orang tua, kaum muslimin. Tapi cinta itu tentu porsinya tidak melebihi cinta kita pada Allah, karena Allah mengatakan, “Katakanlah! ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta-benda yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri akan merugi dan rumah tangga yang kamu senangi (manakala itu semua) lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjiha di jalan-Nya, maka tunggulah keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”

Prestasi kepahlawanan para pejuang tidak terlepas dari pengaruh cintanya seorang pemuda kepada pemudi. Umar bin Abdul Aziz berhasil memenangkan pertarungan cinta sucinya kepada Allah dari pada cinta tidak bertuannya kepada seorang gadis. Tidak ada yang salah pada cinta. Berusahalah menempatkannya pada tempat, waktu dan sisi yang tepat.

Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Ya Allah Engaku mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengna limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

(Yesi Elsandra, special untuk yang saling mencintai karena-Nya)

aku yakin, aku tidak sendiri

Sungguh. Hingga saat ini aku belum bisa menerjemahkan rasa hatiku sendiri. Sejak pertama kali suamiku mengatakan niatnya untuk melanjutkan studi ke negeri jiran setahun lalu, hingga sore ini, di mana besok suamiku harus berangkat, aku masih merasa asing dengan perasaanku.

Bahagia! Beberapa orang mengatakan aku harus demikian. Karena kesempatan ini adalah karunia yang tidak dapat dinikmati oleh semua orang.

Sedih? Itu yang ada di lubuk kalbuku, saat kulihat putra kami yang belum juga genap dua tahun harus tumbuh berkembang tanpa ayah di sisinya, untuk sementara waktu.

Ah… biarlah semuanya mengalir seperti air. Biarlah semuanya diatur oleh Dzat Yang Maha Mengetahui kesudahan hamba-Nya. Biarlah!

Memang hanya itu yang selama ini mengakhiri perenunganku, tentang hidup kami setelah suamiku berangkat. “Sabar ya, Sayang. Toh nanti kamu pun akan menyusul. Berdoalah semoga Allah segera mengumpulkan kita kembali dalam keadaan yang lebih berbahagia…” demikian kata-kata yang selalu diucapkan oleh suamiku, untuk menenangkanku. Aku pun paham, bahwa dia juga terhibur dengan kata-kata itu. Dan, akhirnya, hanya senyum yang menyudahi pembicaraan kami. Senyum penuh harapan, akan tercapainya cita-cita.

***

Allah memang mempunyai cara tersendiri untuk menata kehidupan hamba-Nya. Aku merasa amat bersyukur. Enam bulan lalu, perusahaan tempat suamiku bekerja merumahkan seluruh karyawannya. Saat itu, kami sendiri merasa gundah, terlebih berita di media menyebutkan bahwa ini adalah awal dari PHK. Ah… padahal sebelumnya kami sama sekali tak pernah membayangkannya. Memang, kadang niatan untuk mencari nafkah di tempat lain muncul, tapi itu hanya suatu wacana, bukan sebuah keseriusan. Dan, tatkala musibah itu datang, kami pun khawatir.

Doa pun mengalir tiada henti, memohon kemurahan rizki-Nya. Memohon ketenangan batin, mengharap situasi segera berubah. Alhamdulillah, dua pekan setelah itu, berita gembira datang. Setelah empat kali mengirimkan pengajuan beasiswa, Allah pun menjawabnya. Seorang professor salah satu perguruan tinggi negeri di Malaysia, mengijinkannya mengerjakan sebuah proyek, sembari mengambil pendidikan master. Subhannallah.. Alhamdulillah, pertolongan Allah memang begitu dekat buat semua hamba-hamba-Nya.

Hal yang dulu sempat menjadi masalah tak terpecahkan dalam setiap percakapan kami, akhirnya berubah menjadi sebuah anugerah yang tak ternilai. Jika dulu, aku sangat menentang keinginannya untuk melanjutkan studi karena kami harus berpisah, malah akhirnya aku menjadi pendukung utamanya. Subhannallah… Allah memang Maha membolak-balik hati hamba-Nya.

***
Sore ini, kembali aku merenung. Setelah dukungan demi dukungan kukerahkan padanya untuk persiapan keberangkatannya, aku tercenung. Apa yang nanti akan terjadi saat kami berpisah? Bagaimana aku bisa meng-handle semua pekerjaan rumah tangga yang dulu kami kerjakan berdua, bahkan bertiga dengan pengasuh anakku? Kepada siapa aku harus menumpahkan segala uneg-uneg setelah lebih dari delapan jam aku bekerja di kantor? Bagaimana aku harus menjelaskan kepada bocah kami, jika nanti dia merengek menanyakan ayahnya?

Beribu pertanyaan bermunculan di benakku. Namun tak satu pun yang terjawab. Semuanya bak misteri.

Hingga adzan maghrib berkumandang, aku masih belum menemukan jawabannya.
Kuambil air wudhu dan kutunaikan sholat. Aku berencana untuk menumpahkan segala rasaku pada Sang Khalik, usai sholat nanti.

Dan air mataku pun tak bisa kutahan lagi saat kata demi kata terurai, tertuju kepada-Nya. Aku memang masih bisa menahan emosi dan air mataku di depan suamiku. Karena aku tak ingin semangatnya jatuh kembali setelah beribu dukungan kuberikan kepadanya. Aku percaya akan tujuannya, menuntut ilmu untuk berusaha mengubah nasib kami.

Doakan ayah dapat ilmu yang manfaat ya, Ma, begitu kalimat yang selalu diucapkannya jika kami berbincang tentang rencana itu.

Namun, apakah aku mampu menyembunyikan segala kesedihan dan kekhawatiran hati ini kepada-Nya? Kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui hal yang nyata dan yang ghaib? Tidak! Tentu tidak. Aku tidak dapat berbohong kepada-Nya.

Sekarang aku mulai memahami, bahwa hatiku memang sedih. Aku memang khawatir… aku memang takut.

Namun semua kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan yang kurasakan harusnya tidak boleh terjadi.

Aku harus pasrah.. harus tawakal. Karena rencana itu tidak akan terjadi kecuali atas kehandak-Nya. Bukankah sebelumnya aku selalu berdoa meminta keputusan yang terbaik? Jika kemudian Allah menganugerahkan hal ini padanya, tentunya ini juga terjadi atas kehendak-Nya.

Aku harus tegar. Aku harus ikhlas.

Aku harus tetap menjalankan kehidupanku dengan sebaik-baiknya. Aku masih harus terus mendidik buah hati kami, walau tanpa ayah disampingnya. Apa pun yang terjadi, air mataku tak boleh menetes di depan putraku.

Aku yakin aku tidak sendiri. Ada Allah.. Dzat Yang Maha Pemurah… Dzat yang tak pernah kering kasih sayang-Nya… Dzat Yang Maha Welas Asih…Dzat Yang Maha Perkasa.

Kepada-Nya lah aku harus mengadukan setiap hal yang kuhadapi. Saat masalah datang. Saat kelelahan mendera jiwa dan raga. Saat beragam pernik kehidupan harus kulintasi.

Aku teringat petikan nasyid yang dikumandangkan Raihan:

Selangkah ku kepada-Mu.
Seribu langkah kau padaku…

Selama kita berusaha mendekat kepada-Nya, insya Allah Dia juga akan mendekat pada kita, seribu kali.

Doa. Hanya melalui doa-doa panjanglah aku akan mengharap rahmat-Nya. Agar cita-cita mulia yang kami impikan, bisa menajdi sebuah kenyataan.
eramuslim